TAMAN SARI, ISTANA BAWAH AIR

Tag

, , , , , , , ,

armansyahputra-com

Salah satu ruang bawah tanah Taman Sari

Dengan luas mencapai 10 km persegi Taman Sari Jogjakarta  tak hanya sebatas pemandian raja yang selama ini ku kenal. Komplek ini merupakan istana bawah air.  Dibangun dengan tembok yang tebalnya mencapai 2 meter, dilengkapi dengan drainase dan ventilasi yang tergolong canggih bahkan untuk ukuran tekhnologi masakini.

Taman Sari  memiliki fungsi utama sebagai bunker  rahasia raja Jogjakarta untuk keadaan  darurat, namun dimasa damai ruangannya difungsikan sebagai tempat pendidikan dan bermain putra putri kerajaan, juga dilengkapi dengan tempat beribadah (Masjid) dan tak ketinggalan ruang semedi Raja.

(Fujifilm Xpro2)

 

Iklan

ISTIMEWANYA JOGJAKARTA

Tag

, , , , , , , , ,

Ditengah hujan yang mengguyur  tak henti dan pengunjung yang penuh sesak seolah tak peduli, Jogjakarta selalu terasa istimewa dan  tak pernah kehilangan sisi romantisnya.

malioboro

Sudut jalan Malioboto yang selalu dipenuhi pengunjung untuk berfoto dibawah tulisan jalan Malioboro

malioboro

Calung punk, alat musik dari bambu dengan serasi memainkan musik-musik punk

Jogjakarta tak hanya sekedar  kota yang sarat dengan cerita masalalu. Berkunjung untuk kesekian kalinya ke Jogjakarta tak pernah membuatku bosan. Melangkahkan kaki disepanjang jalan Malioboro yang legendaris selalu membuatku ingin berlama-lama di kota ini.

Jogjakarta

Jalan  Malioboro dengan andong sebagai angkutan khasnya

Malioboro

Trotoar di sepanjang jalan Malioboro, lebih tertata rapi

Malioboro

Khusus parkir andong

Walaupun awalnya hanya datang karena tugas, aku tak ingin melepaskan kesempatan untuk menikmati  kota. Menginap dikawasan jalan Sosrowijayan, setiap malam bila tanpa hujan aku menghabiskan waktu dengan duduk di bangku trotoar, memperhatikan orang berlalu lalang sampai pagi menjelang. Mereka berkelompok membawa kamera atau pasangan kekasih yang berpelukan mesra berlalu dari hadapanku dengan tawa bahagia.

malioboro jogjakarta

Seorang pengamen dengan angklung di trotoar toko Malioboro

malioboro jogjakarta

Lampu andong

Bringharjo

Pasar Bringharjo

Bringharjo jogjakarta

Tukang becak, menunggu penumpang di pasar Bringharjo Jogjakarta

Bringharjo, Jogjakarta

Kuli angkut di pasar Bringharjo, Jogjakarta

Bila pagi tiba, aku bersama  temanku memacu sepeda motor bebek matic sewaan menuju tempat-tempat yang tak kalah istimewanya. Walau kerap terhambat hujan aku tak pernah menyesalinya.

jogjakarta

Kaos dengan gambar-gambar menarik

jogjakarta

Becak Jogjakarta

jogjakarta

Pedagang sayur di kaki 5

Cukup mengganti sepatu basah yang membuat kaki kecut menciut dengan sepasang sendal jepit yang kubeli di mini market, perjalanan kembali dilanjutkan. Candi Borobudur, candi Prambanan, istana Ratu Boko tak kulewatkan. Bahkan ketika  harus memanjat tembok untuk  mengambil sebuah foto di  Taman Sari pun kulakukan .

malioboro

Bahagia bermain catur di trotoar Malioboro

Sayang, keraton  simbol kekuasaan Jogjakarta, gagal kuabadikan. Waktu yang sudah terlalu sore membuatku tak punya daya untuk memaksa penjaga membuka gerbang istana.

Vredeburg castle

Benteng Vredeburg Joogjakarta

Vredeburg castle

Fotografer mengabadikan benteng Vredeburg

Vredeburg jogjakarta

Istirahat sejenak di benteng Vredeburg Jogjakarta

bank indonesia

Gedung Bank Indonesia Jogjakarta

gembok cinta

Gembok cinta di km 0 Jogjakarta

taman sari

Taman Sari

Waktu, menjadi hal yang sangat sulit kutaklukkan pada saat itu. Niat untuk bangun pagi hanya menjadi angan-angan, ketika jam tanganku ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Dengan terkantuk kami tetap tak melewatkan tour volcano di gunung Merapi. Letusan bertahun-tahun lalu, menyisakan batuan disekitar lereng yang harus jatuh bangun kutaklukkan. Begitupun  hasrat untuk menyaksikan sendiri sisa keganasan Merapi tak terkalahkan oleh rintangan.

Taman sari

komplek Taman Sari

armp0288

Komplek Taman Sari, sebagian hanya tinggal sisa-sisa reruntuhan

prambanan

Komplek candi Prambanan

candi prambanan

Aku di komplek candi Prambanan

candi Prambanan

Seorang turis dari Negeri Belanda sedang “pose” di salah satu candi komplek Prambanan

ratu boko

Tak jauh dari komplek candi Prambanan terdapat Istana Ratu Boko

ratu boko

Istana Ratu Boko

Motor trail 150 cc, meraung-raung kadang harus didorong hanya untuk sekedar melewati batas jalan. Pemandangan gunung Merapi  yang  pada saat letusan terakhirnya menelan Mbah Maridjan sang  penjaga begitu megah sekaligus menyisakan kengerian.

gunung Merapi

Kali Adem, yang dulunya berfungsi mengalirkan lahar akibat letusan gunung Merapi

Merapi

Motor trail 150 cc menemaniku menjelajah Merapi

merapi

Bunga edelweis yang dipetik dan dirangkai, banyak dijual di sekitar bunker Kali Adem

mbah maridjan

Gamelan mbah Maridjan yang ikut rusak karena diterjang awan panas wedus gembel

wedang luwuh

Wedang luwuh, minuman para raja

Jogjakarta, kota yang pernah dijuluki kota sepeda dan kota pelajar ini, selalu menyisakan kenangan.

(Foto menggunakan kamera Fujifilm Xpro 2, lensa fuji 14 mm, fuji 35 mm dan Carlzeiss 50 mm)

BROMO, GUNUNG PARA DEWA

Tag

, , , , , , , , ,

Gunung Bromo diambil dari bahasa Sangsekerta untuk Brahma (salah satu Dewa utama agama Hindu). Termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru ini pernah aku kunjungi pada bulan Oktober tahun 2011 silam.

Dengan ketinggian 2.300 dpl Gunung Bromo  dapat dicapai dari beberapa kota di Jawa Timur. Salah satu alternatifnya adalah lewat kota Probolinggo. Dengan menggunakan taksi dari bandara Juanda Surabaya aku menuju stasiun bus antar kota lalu melanjutkan perjalanan  menuju kota Probolinggo. Sesampai disana perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menggunakan angkot atau ojek menuju desa Cemoro Lawang sebagai tempat terakhir dimana masih terdapat penginapan.

bromo

Matahari terbit di Bromo

Matahari terbit,  adalah salah satu pemandangan terbaik yang dapat disaksikan  di kawasan ini  dan untuk itu  aku harus bangun subuh-subuh, menumpang  ojek yang telah dipesan sebelumnya.

Motor melaju   menembus gelap   dan  dengan lincah berkelok-kelok melewati jalan sempit berbatu membuat tubuh  terhempas lemas.

bromo

Pemandangan Bromo dari Penanjakan 1

Dari Penajakan 1 terlihat pemandangan yang membuat semua kesakitan diperjalanan terbayar lunas. Langit laksana kanvas yang dilukis  sempurna dengan dominasi warna merah menyala.  Seiring naiknya mentari gunung Batok, Bromo dan Semeru dikejauhan mulai menampakkan diri.

Gunung batok

Gunung Batok

Kawah Bromo nampak  terkoyak karena pada saat itu baru terjadi letusan, sementara Semeru terlihat mengeluarkan asap dari kawahnya. Waktu matahari mulai tinggi perjalananpun dilanjutkan. Pengendara ojek yang adalah pria suku Tengger dengan tenang memacu motornya seolah tak peduli dengan jurang yang menganga.

bromo

Bromo, Batok dan Semeru

Memasuki lautan pasir, motor melaju semakin kencang meninggalkan debu dibelakang, sampai akhirnya tak ada jalan lagi  dan kuda-kuda sudah menunggu untuk membawaku ke puncak.

bromo

Menanti penumpang

Tangga menuju kawah nyaris tak terlihat karena tertutup pasir, beberapa orang terlihat berusaha mendaki meski dengan kaki-kaki terlihat kepayahan. Aku memutuskan untuk tak melakukan hal yang sama. Menikmati pemandangan dari kaki bawah sudah cukup memuaskanku.

Bromo

 

bromo

Menunggku penumpang II

bromo

Para penunggang kuda

bromo

Ditengah lautan pasir

Dari kejauhan terlihat Pura Luhur Poten ditengah lautan pasir, yang merupakan pura Hindu tempat beribadat suku Tengger sejak jaman Majapahit. Pura ini masih terlihat terawat dengan baik dan masih digunakan untuk upacara agama Hindu.

bromo

Matahari di Bromo

bromo

lautan pasir

bromo

Padang rumput

Aku melanjutkan perjalanan, kali ini di sebuah padang rumput luas. Namun pada saat itu rumput terlihat kering meranggas, disebabkan hawa panas letusan gunung.

 

Foto menggunakan kamera canon EOS 5 D mk ii dan lensa canon 17-40 mm f 4 serta kamera saku Sony

 

PEMIMPIN YANG TAK KUNJUNG TIBA

Tag

, , , , , , , , ,

Aku terjaga, ketika sinar matahari tembus disela-sela tirai jendela kamar penginapanku. Secara reflek aku melompat dan menyibak tirai menantang cahaya yang menyilaukan mata.  Aku telah melewatkan banyak hal pagi ini.

Tak mau membuang waktu lagi, aku meraih handuk mengerjakan hal yang tertunda kemarin, yaitu mandi. Air dingin mengguyur tubuh, mengembalikan kesegaranku. Selesai mandi, terburu-buru aku merapikan semua barang yang berserakan di lantai dan menjejalkannya secara paksa kedalam ransel.

Setelah memastikan tak ada lagi yang tersisa, aku melesat menuruni tangga. Kulihat petugas jaga penginapan masih pulas diatas lantai loby. Sepertinya dia yakin sekali tak akan ada kejahatan di pulau ini. Tak mau terlalu ambil pusing, aku membuka pintu dan keluar dari penginapan. Tujuanku sarapan pagi. Tak jauh dari situ aku menemukan sebuah warung yang dibuka di teras sebuah rumah. “Kak, ada jual sarapan apa ?” tanyaku kepada seorang perempuan muda yang terlihat kelebihan berat badan.

Hanya tersedia satu menu, lontong (beras yang dimasak sampai menjadi padat)  dan tak ada pilihan lain. Aku memesannya dengan segelas kopi hitam, tak lama kemudian beberapa pengunjung lain masuk dan mulai memesan menu yang sama. Sarapan yang terasa hambar dilidah tetap kupaksakan masuk kedalam perut. Beberapa orang lalu lalang, dan saling bertegur sapa. Kebanyakan mereka hanya membahas hal-hal yang ringan, seputar bumbu masakan atau sanak keluarganya di Singapura. Dihadapanku duduk seorang kakek, berperawakan kecil, berkacamata bulat menggunakan pakaian tradisional Melayu terlalu asik menikmati sarapannya sehingga tak menanggapi senyum bersahabatku.

pulau penyengat

Menikmati sarapan pagi

Selang beberapa waktu,  masuk seorang nenek berperawakan tinggi  berkulit putih, memesan sarapan untuk dibawa pulang. Kakek berkacamata bulat memulai perbincangan dengan topik mati. Si “anu” kemarin meninggal dunia, sanak keluarganya hari ini datang dari Singapura, Si “fulan” dua hari kemarin juga meninggal dunia meninggalkan sekian anak yang masih kecil, katanya sambil terkekeh. Kelihatannya topik ini menarik dan mereka membincangkannya dengan riang gembira.

Tak ingin terlalu lama, aku meninggalkan warung kembali ke penginapan “Shultan”. Aku meraih tas kamera yang telah kusiapkan sebelumnya.  Sebelum berangkat aku minta ijin ke penjaga penginapan untuk chek out agak siang, karena aku merencanakan untuk menyaksikan pawai memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di pulau ini.

Masjid Raya Sultan Riau adalah tempat pertama kunjunganku hari ini. Lokasinya tepat di depan penginapanku, sehingga aku tak perlu bersusah payah untuk mencapainya. Masjid  berukuran 54.4 x 32.2 meter ini berdiri megah  dengan warna kuning mencolok tampak menonjol dibandingkan dengan bangunan disekitarnya.  Terdapat 13 kubah dan 4 menara  mengelilingi masjid yang berasitektur Melayu, Arab, India dan Turki.  Uniknya masjid ini adalah bentuk kubah menara yang jika dilihat sepintas mirip bentuk menara kastil di Eropa atau bangunan dari negeri dongeng Disneyland. Dengan tembok tebal mencapai 50 cm, konon mereka menggunakan putih telur   untuk merekatkan bata. Wallahualam…

pulau penyengat

Gerbang Masjid Raya Sultan Riau

Untuk masuk kedalam komplek masjid aku harus menaiki beberapa anak tangga. Pagi itu suasana sepi. Hanya ada seorang petugas yang mungkin bertanggung jawab atas kebersihan masjid. Aku melepas sepatu dan mulai berkeliling. Sewaktu aku bertanya kepada petugas yang melintas didepanku, dia tak mengijinkan untuk memotret bagian interior.

pulau penyengat

Bagian depan bangunan Masjid Raya Sultan Riau, Pulau penyengat

pulau penyengat

Masjid Raya Sultan Riau dari sisi lain

pulau penyengat

Disamping bangunan utama , terdapat bangunan lain di komplek masjid raya Sultan Riau

Memasuki bagian dalam masjid aku harus melewati dua pintu, pintu pertama terdapat sebuah ruangan yang tak terlalu besar, di bagian kiri terdapat lemari antik terbuat dari kayu, Kemungkinan digunakan untuk menyimpan kitab suci Al-Quran atau buku-buku agama lainnya. Melewati pintu kedua terdapat kotak kaca yang didalamnya terdapat kitab suci Al Quran tulisan tangan seorang penduduk pulau Penyengat yang belajar agama ke Mesir bernama Abdulrahman. Karena gaya penulisannya mengikuti gaya Turki maka ia lebih dikenal dengan nama Abdulrahman Stambul.

Didalam masjid aku tak menjumpai seorangpun. Sambil memperhatikan sekeliling aku mengeluarkan kamera mirrorless ku dari dalam tas. Cepat-cepat aku memotret. Aku telah melanggar aturan.

masjid penyengat

Interior Masjid Raya Sultan Riau berwarna putih dengan beberapa bagian termasuk mimbar di cat menggunakan warna emas

Masjid penyengat

Interior dalam masjid ditopang beberapa tiang yang cukup besar

dscf9136

Al-quran tulisan tangan yang ditulis Abdulrahman Stambul,

Puas berkeliling, aku melanjutkan perjalanan dan sampai ke bangunan yang yang diberi nama Istana Kantor. Istana yang bergaya Eropa ini dipergunakan oleh Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857) selain dipergunakan sebagai tempat tinggal Raja Ali juga memfungsikannya sebagai kantor. Inilah yang menjadi awal penyebutan nama istana ini menjadi istana kantor.  Bangunan ini terlihat kokoh namun kurang terawat. Di bagian belakang terlihat puing-puing, mungkin sisa-sisa dari bangunan lain di komplek istana ini.

istana kantor

Ruangan di gerbang masuk Istana kantor, kelihatannya digunakan untuk petugas pengawal istana atau sebagai menara pemantau

Istana kantor

Istana Kantor, Pulau Penyengat

istana kantor

Arsitektur Istana kantor bergaya Eropa

Tak hendak berlama-lama, aku  meninggalkan istana kantor yang megah dan berjalan tanpa memperhatikan arah. Tanpa sadar aku malah kembali ke Benteng Bukit Kursi yang telah aku kunjungi sehari sebelumnya.Sewaktu hendak berbalik, aku dikejutkan oleh seorang anak muda. Kiranya dia adalah petugas yang merawat benteng ini. Pemuda yang baik itu akhirnya menunjukkan jalan pintas melewati semak-semak menuju balai adat yang terletak dipinggir laut.

Aku pasrah mengikuti jalan setapak, melewati semak-semak  dan sampai disebuah lapangan sepakbola yang tak ada rumputnya sama sekali. Ternyata lapangan bola ini persis berada dibelakang Balai Adat.

Aku mulai diselimuti rasa bosan. Bangunan besar berdinding kayu itu tak terlalu menarik perhatianku. Aku lebih memilih untuk berjalan di sebuah dermaga  dan menikmati hembusan angin disana

balai adat pulau penyengat

Balai adat pulau Penyengat dari kejauhan, di dalamnya berisi pelaminan dan benda lain yang berhubungan dengan adat Melayu. Dikolong bangunan terdapat sebuah telaga yang konon apabila airnya diminum atau dipakai wudhu maka segala doa akan di Ijabah Allah SWT

Sebutir kelapa muda menjadi pengobat dahagaku siang itu. Rasa lelah dan keringat di tubuhku terusir sejenak. Beberapa orang turis disebelahku tertawa kencang sekali. Mereka berbicara dengan logat yang nyaris tak bisa kubedakan. Apakah mereka turis lokal, Malaysia atau mungkin Singapura ?

Istana engku bilik penyengat

Istana Eku Bilik yang merupakan nama kecil dari Engku Hamidah

Menjelang jam 12 siang aku meninggalkan balai adat karena teringat janji supaya tepat waktu. Menuju ke penginapan aku melewati Istana Engku Bilik yang pintunya terkunci rapat.  Demikian juga waktu aku tiba di komplek makam Yang Dipertuan Muda VI Raja Ja’far, aku hanya mengambil foto sekenanya saja.

pulau penyengat

Makam Yang Dipertuan Muda (YDM) VI Raja Ja’far

Semakin mendekati penginapan, jalan sempit yang sehari-harinya sepi, mulai ramai oleh anak-anak maupun orang tua menuju ke arah Masjid. Kiranya mereka mempunyai tujuan sama, yakni menyaksikan pawai menyambut Maulid.

pulau penyengat

Bersiap mengikuti pawai Maulid Nabi

Setelah menitipkan ransel di warung, aku larut ditengah massa. Ibu-ibu berbaju putih bersih dan berselendang biru tampak mendominasi. Dibagian depan formasi barisan drum band sudah berbaris rapi. Sesekali mayoret dengan pakaian kebesarannya melemparkan tongkat berbandul ke udara. Sebuah atraksi yang sampai kinipun tak ku mengerti maksudnya.

pulau penyengat

Ibu-ibu dari kelompok pengajian sebagai peserta pawai Maulid

pulau penyengat

Petugas pembawa kitab berdiri di barisan depan didampingi dua orang yang membawa kendi

Waktu matahari semakin tinggi dan panasnya menembus  sampai ketulang. Sang pemimpin yang dijadwalkan membuka acara sekaligus melepas  pawai tak kunjung tiba. Barisan yang awalnya  rapi perlahan mulai bubar. Ibu-ibu yang berpakaian serba putih dengan selendang biru mulai membentuk formasi kelompok. Entah apa yang mereka bicarakan.

pulau penyengat

Kitab yang dibawa dibarisan paling depan

pulau penyengat

Peserta drum band yang berteduh di pinggir masjid

Para pemain drumband tampak gelisah.  Sebagian dari mereka mulai meletakkan peralatannya dan memilih berteduh di sebelah Masjid. Anak kecil yang bertugas membawa spanduk duduk di aspal. Entah terbuat dari apa pantat mereka, bahkan sepatu bootku tak sanggup menahan panasnya, tapi buat mereka biasa-biasa saja. Pembawa acara berteriak-teriak lewat pengeras suara supaya mereka kembali kebarisan. Tapi wajah-wajah bosan itu seolah tak perduli.

pulau penyengat

Alat musik yang mereka letakkan begitu saja

pulau penyengat

Pembawa spanduk kontingen pawai

pulau penyengat

Berteduh dengan umbul-umbul

pulau penyengat

Peserta pembawa bendera

pulau penyengat

Bapak Walikota Tanjung Pinang, memberikan sambutan sekaligus melepas pawai

Disebelahku berdiri sepasang turis yang sepertinya dari mancanegara. Aku perkirakan mereka juga sama kecewanya denganku. Otakku berputar-putar, apakah aku akan tetap menunggu atau membuat rencana baru.  Menjelang jam 14.00 siang, pembawa acara kembali berteriak bahwa sang pemimpin telah merapat. Dengan pengawalan ketat beliau menuju mimbar yang terhormat. Tak ada permohonan maaf, hanya sebaris kalimat pujian dan nasehat. Aku sempat di dorong oleh seorang pengawal karena dianggap menghalangi pandangan sang pemimpin. Tapi sudahlah akupun tak mau ambil pusing.

Sayang aku tak mengikuti akhir ceritanya. Memutuskan berbalik dan mengejar kapal yang sudah menanti dari tadi. Kembali ke Tanjung Pinang dan belum memutuskan selanjutnya kemana lagi.

Pulau penyengat, Kepri 12 Desember 2016

Semua foto menggunakan kamera mirorrless Fujifilm Xpro 2, dan lensa Fujinon XF 14 mm f2.8, Fujinon XF 35 mm f2 dan lensa Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8 (with adapter)

baca juga https://armansyahputra.com/2016/12/24/semalam-di-pulau-penyengat/

FILOSOFI GELAS KOSONG

Tag

, ,

Gelas kosong

Gelas kosong (Pentax K30/Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f2.8)

Apa yang terpikir waktu melihat sebuah gelas kosong ? Beberapa dari kita akan melihat gelas kosong cuma sekedar gelas yang belum terisi. Yang lain akan melihatnya dan terinspirasi menciptakan puisi, beberapa lagi bahkan tak hendak melihatnya karena menganggapnya tak ada arti.

Aku sendiri mencoba memandang gelas kosong seperti layaknya aku memandang kehidupan.

Seringkali kita merasa bahwa kita adalah makhluk yang paling tau bahkan cenderung sok tau. Kita merasa bahwa pengalaman hidup yang telah kita lewati sedemikian banyaknya seolah-olah gelas kita sudah penuh dan akan tumpah jika terus diisi.

Melihat gelas kosong dalam kehidupan akan mengajarkan kita untuk terus-menerus mengisinya dengan sesuatu yang bermakna dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa.

Gelas kosong mengingatkan kita untuk selalu belajar dan tetap rendah hati.

SEMALAM DI PULAU PENYENGAT

Tag

, , , , , , , , ,

Waktu menunjukkan jam 13.00 wib dan langit masih tertutup mendung,  namun panas dan gerah terasa menguras energi. Aku berjalan di dermaga Pulau Penyengat dan berhenti di sebuah warung makan persis di depan Masjid Raya Sultan Riau . Aku memesan segelas es teh manis atau teh obeng dalam istilah setempat dan berbincang dengan anak pemilik warung.

Dia ramah dan bercerita tentang suasana pulau dengan logat melayu yang kental. Walaupun bukan topik itu yang jadi prioritasku tapi aku tetap mendengarkan dengan tekun. Sampai disatu kesempatan aku bertanya tentang jam keberangkatan terakhir kapal “pompong” menuju Tanjung Pinang. Dalam jawabannya dia juga sekaligus menawarkan tempat menginap. Surprise, ternyata dipulau kecil ini sudah ada penginapan dan aku tak berpikir dua kali untuk memutuskan akan bermalam disini.

pulau penyengat, kepri

Catatan perjalanan

Dengan sedikit terburu-buru teh yang terhidang dimeja kuhabiskan. Aku menitipkan ransel diwarung itu, urusan penginapan nantilah batinku. Aku tak sabar ingin segera berkeliling pulau. Becak motor yang menjadi satu-satunya moda transportasi di pulau ini kuabaikan. Dengan waktu yang cukup banyak, jalan kaki menjadi pilihan.

Aku menelusuri  jalan dihadapanku. Suasananya begitu sunyi, aku bahkan bisa mendengar langkah kakiku sendiri. Rintik hujan mulai terasa membasahi tubuh bercampur dengan keringat yang tak henti-hentinya mengucur. Aku sedikit khawatir kondisi ini akan menjadi masalah, apalagi ini hari pertama perjalanan. Kalau sakit bagaimana? Jalanan turun naik cukup melelahkan, dengan tubuh  “bejekat” benar-benar tak membuatku nyaman. Tapi kubulatkan saja tekad untuk meneruskan langkah seperti rencana semula.

Pulau kecil dengan panjang 2000 meter  ini menghadirkan banyak kisah tentang perjalanan  kekuasaan selama berabad-abad dan karya besar yang sampai saat ini masih digunakan. Kenapa dinamai Penyengat? Pertanyaan itu menggelitikku. Di kampungku Tanjung Pura sana penyengat itu adalah nama lain dari Tawon yang mekanisme mempertahankan dirinya dengan cara menyengat. Maka di kampungku itu tawon sering disebut penyengat. Apakah ada hubungannya ? Aku mencoba mencari tahu.

Seorang penjaga makam akhirnya bercerita bahwa dulu pulau ini adalah tempat persinggahan kapal untuk mengambil air tawar,  masalahnya seringkali para awak kapal itu diserang serangga/tawon  yang menyengat sehingga mereka memberi nama  pulau ini dengan nama  Penyengat atau sekarang sering disebut dengan nama Penyengat Indrasakti

Awalnya pulau kecil ini adalah mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah.  Di abad ke 18  terjadi peperangan di kerajaan Riau- Johor membuat posisi  pulau yang strategis  ini menjadi  penting,  sehingga harus dijaga orang-orang dari pulau tujuh di kepulauan Natuna. Kedudukan Penyengat sendiri berada dibawah Kesultanan Riau Lingga  yang berpusat di Daik dan diperintah oleh raja yang bergelar Yang Dipertuan Muda. Namun demikian mereka mempunyai struktur pemerintahan dan tentara sendiri.

Aku tiba di  komplek pemakaman yang didominasi warna kuning dan hijau, warna kebesaran kesultanan Melayu. Dipapan tertulis makam Raja Haji Fisabilillah /Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau IV. Dipinggir makam tumbuh dengan kokoh pohon beringin dengan sulur yang menyentuh tanah.  Suasananya mistis, sama dengan kisah tokoh  Raja Haji Fisabilillah itu sendiri. Disebelah komplek makam terlihat sebuah pondok kecil sangat sederhana tempat beberapa orang duduk. Aku menghampiri mereka dan berbincang. Arif,  petugas penjaga makam bercerita panjang lebar tentang Raja Haji Fisabilillah.  Beliau adalah Yang Dipertuan Muda IV sekaligus merupakan Yang Dipertuan Muda pertama suku Melayu, karena sebelum beliau Yang Dipertuan Muda I sampai III adalah Daeng dari Bugis. Raja Haji Fisabilillah berangkat ke Melaka dan bertempur secara heroik melawan Belanda yang melanggar perjanjian pajak kapal dan  gugur dalam pertempuran itu.  Setelah 30 tahun jenazah beliau dimakamkan di Malaka, Belanda berniat memindahkannya ke Batavia/Jakarta sebagai pusat kekuasaan VOC waktu itu.

Dalam perjalanan melewati pulau Penyengat peti keranda  terbakar. Khawatir kejadian yang tak diinginkan, kapal merapat ke dermaga Penyengat dan memakamkan Raja Haji Fisabilillah di tempat ini. Tentang kebenaran cerita ini “Wallahualam”, yang jelas belau saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu pahlawan Nasional. Disamping makam Raja Haji Fisabilillah terdapat makam Habib Sheikh Bin Habib Alwi Assegaf seorang ulama berasal dari Yaman Selatan yang menjadi guru dan pemimpin agama pada era itu.

Raja haji fisabillah

Komplek makam Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Raja Haji Fisabillah

Komplek makam Raja Haji Fisabilillah dari balik pohon beringin (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

pulau penyengat

Aku dengan beberapa pemuda di komplek makam

Puas mendengarkan cerita, aku meninggalkan Arif dengan segudang catatan dikepala. Langkah mulai tertatih karena letih. Hujan rintik berubah menjadi semakin deras sewaktu aku tiba di komplek pemakaman lainnya. Raja Hamidah atau dikenal dengan panggilan Engku Putri permaisuri dari Sultan Mahmud Shah III, Anak  perempuan pertama dari Raja Haji Fisabilillah. Menurutku,beliaulah sebenarnya pemilik pulau ini karena seperti ceritaku di awal pulau ini adalah mas kawin dari sang raja kepadanya.

Aku berteduh di kios kecil yang menjual cinderamata disebelah komplek makam. Sambil menunggu hujan reda aku sempatkan berbincang-bincang. Sayangnya tak banyak informasi yang bisa kugali. Didepan makam terdapat bangunan yang sudah kosong. Beberapa tahun lalu di dalam bangunan ini terdapat genset dengan ukuran cukup besar sebagai sumber energi listrik untuk penduduk. Sekarang tak berfungsi lagi karena listrik dipasok dari Batam melalui  kabel bawah laut.

pulau penyengat

Cinderamata berbentuk perahu lancang kuning terbuat dari kerang laut (Fujifilm Xpro 2/lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

pulau penyengat

Asbak rokok terbuat dari kerang laut (Fujifilm Xpro 2/lensa manual Carlzeiss jena tessar 50 mm f 2.8)

Penjual cinderamata di samping komplek makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/Lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

Ketika hujan mulai reda, aku ke komplek makam Engku Putri. Selain makam Engku Putri terdapat beberapa makam lain, diantaranya makam Raja Ali Haji sang pujangga dan sastrawan  istana . Dari tangannya lahir gurindam (kalimat puisi yang berisi nasehat) berjumlah 12 pasal sehingga dikenal dengan Gurindam 12. Ditulis dalam huruf Arab dan diterbitkan di negeri Belanda tahun 1854

Keduabelas pasal itu banyak dituliskan ditempat maupun makam, aku menyukainya terutama kalimat-kalimat di pasal ke-7

“Apabila banyak berkata-kata, Disitulah jalan masuk dusta. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka. Apabila kita kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat. Apabila anak tidak dilatih, jika besar bapaknya letih. Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang. Apabila orang yang banyak tidur, sia-sia sahajalah umur. Apabila mendengar akan khabar, menerimanya itu hendaklah sabar. Apabila mendengar akan aduan, membicarakannya itu hendaklah cemburuan. Apabila perkataan  yang lemah lembut, lekaslah segala orang mengikut. Apabila perkataan yang amat kasar, lekaslah orang sekalian gusar. Apabila pekerjaan yang amat benar, tidak boleh orang berbuat onar”

Engku putri

Komplek makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

dscf8992

Komplek makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

 

Engku putri

Makam Engku Putri (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Engku Putri

Komplek makam Engku Putri dari kejauhan

Dhadapanku terlihat papan petunjuk arah menuju benteng bukit kursi.  Tak jauh dari tempat itu terdapat bangunan yang tak terlalu luas, namun dibangun dengan tembok setebal lebih dari 20 cm.  ini adalah tempat penyimpanan mesiu pada masa itu. Terlihat  kokoh namun kondisinya sedikit kurang terawat.  Aku menaiki tangga tangga dan mendorong pintu kayu pelan-pelan, terdengar bunyi berderit dari engsel berkarat. Ruangan kosong, dikiri kanannya terdapat ventilasi berupa  jendela ditutupi jeruji besi. Konon kabarnya terdapat empat bangunan sejenis di pulau ini pada masa itu, sekarang hanya tinggal ini yang tersisa. Memang sejak eksodus tahun 1911 dimana lebih dari 5.000 orang  dari 6.000 jiwa penghuni memutuskan untuk pindah ke Singapura dan Johor menyebabkan banyak bangunan dijarah atau hancur dimakan waktu. Penyebab eksodus itu sendiri tak lain dari pertikaian politik dan peperangan.

 

pulau penyengat kepri, fujifilm xpro2

Gudang Mesiu (Fujifilm Xpro 2/ lensa manual Carl Zeis Jena Tessar 50 mm f 2.8)

pulau penyengat kepri,

Konon menurut cerita penduduk setempat, dulu gudang mesiu ini berjumlah empat di berbagai lokasi, namun saat ini hanya tinggal 1 yang tersisa (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

pulau penyengat kepri

Bagian pintu masuk ke gudang mesiu (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

gudang mesiu penyengat

Aku di gudang mesiu (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Sepi,  tak ada seorangpun manusia terlihat. Aku pindah ke sebuah komplek makam yang cukup luas terletak diatas bukit dengan puluhan anak tangga untuk mencapainya. Dengan semangat yang masih menyala aku menapaki anak tangga menuju makam. Dipapan tertulis Makam Raja Abdul Rahman Yang Dipertuan Muda VII. Sejarah mencatat bahwa beliaulah yang memprakarsai pembangunan Masjid Raya Sultan Riau yang terletak tak jauh dari komplek makam ini

pulau penyengat

Komplek makam Raja Abdul Rahman/ Yang Dipertuan Muda VII (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

pulau penyengat

Komplek makam Raja Abdul Rahman/ Yang Dipertuan Muda VII dari sisi berbeda (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Hari menjelang gelap, aku masih punya waktu dan memutuskan untuk mendaki bukit menuju benteng Bukjit Kursi yang tak jauh dari komplek makam Raja Abdul Rahman. Untuk mencapainya aku  melewati gerbang yang telah rusak dan taman yang tak terawat  dipenuhi semak. Uniknya benteng ini berbentuk parit dan terdapat meriam disetiap sudut yang strategis. Meriam-meriam itu konon didatangkan dari Eropa, aku melihat ada lambang VOC disetiap meriamnya. Menurut cerita penduduk pulau awalnya jumlah meriam di benteng ini ada 80, sekarang hanya beberapa yang tersisa. Walau tertutup semak aku masih bisa melihat pemandangan laut tempat moncong meriam diarahkan. Sayang mendung tak kunjung usai dan aku gagal melihat merahnya matahari terbenam.

bukit kursi

Benteng bukit kursi dikelilingi parit (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

Tak mau berlama-lama aku memutuskan untuk mengakhiri perjalananku hari ini. Menuruni bukit dengan kaki yang  mulai lelah  menuju ke penginapan . Diperjalanan aku bertemu dan berbincang dengan seorang penduduk pulau, dia ramah menawarkanku untuk minum air tebu tapi dengan sopan kutolak

benteng bukit kursi

Jembatan untuk melintas benteng (Fujifilm Xpro 2/ lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

benteng bukit kursi

Susunan batu yang membentuk benteng bukit kursi (Fujifilm Xpro 2/lensa manual CarlZeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

Benteng bukit kursi

Meriam benteng bukit kursi (Fujifilm Xpro 2/ Fujinon XF 14 mm f 2.8)

benteng bukit kursi

Meriam benteng bukit kursi (Fujifilm Xpro 2/ Lensa manual Carlzeiss Jena Tessar 50 mm f 2.8)

Penginapan Shultan berada tak jauh dari Masjid Raya Sultan Riau, aku membayar untuk satu malam sebesar Rp. 150.000,- Menempati kamar dilantai 2 aku menjadi satu-satunya tamu yang menginap malam itu. Penginapan cukup bersih dengan ukuran kamar yang luas. dan satu-satunya fasilitas yang disediakan adalah kipas angin.

Aku mulai membongkar ransel dan mencari peralatan mandi dan aku tak menemukan sabun. Diluar mulai gelap. Suara Azan magrib berkumandang dari Masjid Raya Sultan Riau, waktu tiba-tiba listrik padam dan seluruh pulau gelap gulita. Mendadak mood ku berubah, kesal karena perlengkapanku belum kubereskan dan aku belum mandi. Aku hanya melongo di sudut tempat tidur sampai akhirnya aku memutuskan untuk makan malam. Bagaimanapun aku harus menjaga kondisiku tetap sehat.

Didepan penginapan terdapat beberapa warung yang menyediakan makanan, tak banyak menu tersedia dan aku  memesan nasi goreng dan makan dikegelapan. Beberapa orang menyapaku, sambil bercanda mereka bilang bahwa inilah kondisi pulau penyengat diwaktu lampau dan aku cuma bisa tersenyum masam. Malam makin larut dan rasa malasku semakin menjadi-jadi. Waktu akhirnya listrik menyala pun aku masih tak berniat untuk mandi. Aku cuma berbaring dan menghayal dijajah rasa kesalku karena gagal memotret masijd diwaktu malam.

pulau penyengat

Masjid Raya Sultan Riau diwaktu malam (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 35 mm f 2)

pulau penyengat

Pulau penyengat di waktu malam, dari kejauhan terlihat lampu dari kota Tanjung Pinang (Fujifilm Xpro 2/Fujinon XF 35 mm f 2)

Diluar sana suara hiruk pikuk anak kecil tak terlalu kuhiraukan, mereka berlarian karena besok adalah hari besar dimana akan diadakan pawai keliling untuk menyambut Maulid Nabi. Sejenak kupaksakan diriku mengambil kamera dan memotret Masjid dari teras penginapan. Tak ada niat untuk  keluar karena lelahku dan kemalasanku. Aku berbaring sampai tertidur melewatkan malam tanpa mimpi samasekali.

(Cerita perjalanan tanggal 11 Desember 2016)

 

ANTARA MEDAN DAN PULAU PENYENGAT

Tag

, , , , , , ,

Apa yang kita alami  hari ini mungkin  kita anggap biasa saja , padahal tanpa kita sadari sesungguhnya kita sedang menciptakan masalalu–Dee

Aku memulai perjalanan subuh dari rumah agar tak tertinggal pesawat Lion JT 970  yang akan membawaku menuju pulau Batam.  Setelah melewati semua prosedur standard di bandara, akupun masuk kedalam kabin dan duduk di kursi 16 F. Disebelahku duduk seorang nenek yang akan mengunjungi anaknya.  Beliau rajin bercerita tentang kampungnya di Samosir sana. Dia bilang dia harus berangkat sehari sebelum penerbangan dan menginap ditempat sanak saudaranya di Lubuk Pakam. Aku sempat  membantu  nenek memasangkan safety belt dan tak terlalu serius menanggapi pembicaraannya. Aku lebih asik dengan lamunanku tetang tempat yang ku tuju sambil sesekali melihat ke jendela.  Menjelang pendaratan, pesawat berputar-putar di Batam. Pulau yang pernah menjadi tempatku mengais nasib  5 tahun lamanya. Tapi ini bukan perjalanan nostalgia karena pasti akan berbeda kisah disetiap episodenya walaupun akupun tak tahu atau lebih tepatnya tak peduli ini perjalanan tentang apa.

Lion air, Batam, Pulau Batam

Pulau Batam dari atas pesawat Lion Jt 970 sesaat sebelum mendarat

Bandara Hang Nadim, Batam

Menuju terminal kedatangan di Bandara Hang Nadim Batam

Bandara hang Nadim, Fujifilm Xpro2

Terminal kedatangan bandara Hang Nadim Batam Kepulauan Riau

Jam 08.16 WIB pesawat mendarat mulus di Bandara Hang Nadim Batam. Diluar sana langit masih tertutup mendung yang pekat. Lagu Antara Anyer dan Jakarta menyambutku di Provinsi  Kepulauan Riau. Terminal kedatangan masih sepi, aku menyempatkan untuk melihat sekeliling dan tak ada yang berbeda dibandingkan dengan sewaktu aku terakhir datang kesini beberapa tahun lalu, mungkin yang berbeda adalah  kali ini tak ada yang menjemput di terminal kedatangan.

Kopi menjadi hal pertama yang ada dikepalaku saat itu. segelas kopi seperti biasa akan  membantuku berpikir. Ketika gelas hampir kosong barulah kuputuskan untuk memilih rute perjalanan.  Pulau Penyengat dan itu artinya aku harus segera berangkat ke pelabuhan Punggur dan memulainya dari sana.  Aku berjalan menuju stasiun Damri, sayang tak ada rute ke Punggur. Aku coba aplikasi Gojek dan bisa ditebak sejurus kemudian aku sudah diatas sepeda motor.

Pilihanku menggunakan moda transportasi ini ternyata tak salah,  jalanan macet karena pelabuhan dan akses menuju pelabuhan  sedang mengalami renovasi berat.  Sewaktu aku memasuki gedung terminal, teriakan dari arah counter tiket terdengar tak asing namun cukup mengagetkanku. Masing-masing menawarkan harga termurah atau jam keberangkatan yang lebih cepat. Suasana begitu berisik, padahal tak banyak calon penumpang. Aku memilih satu diantara counter tersebut. Penjaga loket menawarkan tiket ke pulau Dabo. Sejenak aku hampir tergoda, sedetik kemudian aku kembali ke rencana awal. Tiket seharga Rp. 52.000 berpindah ketanganku, ditambah pajak pelabuhan sebesar Rp. 10.000 dan aku sudah berada di kapal Marina Batam 2.

pelabuhan punggur, batam

Suasana di pelabuhan Punggur, dalam pengerjaan untuk perbaikan

pelabuhan punggur, batam

Bangunan darurat yang berfungsi sebagai counter tiket

Perlahan kapal meninggalkan pelabuhan, petugas  mulai mengecek tiket penumpang. Didalam  kapal, diputar  film action Mandarin, sementara penumpang  sibuk berbincang atau berlalu lalang. Aku naik ke dek kapal, disana tampak beberapa orang  melakukan hal yang sama. Aku menghirup aroma laut  dan membiarkan angin masuk ke pori-pori. Aku memang merindukannya. Tak ada polusi, hanya terdengar deru mesin dan tiupan angin mengguncang tubuhku.

pelabuhan punggur, batam

Marina Batam 2, kapal yang akan membawaku ke Tanjung Pinang

marina batam 2

Petugas pemeriksa tiket kapal

Menjelang siang, kapal Marina Batam 2 merapat di dermaga Sri Bintan Pura Tanjung Pinang. Menuju ke gerbang keluar pelabuhan kembali aku diteriaki orang yang menawarkan  jasa ojek atau taksi gelap yang siap membawaku ke tujuan. Aku tak terlalu menghiraukan dan berlalu begitu saja sambil melempar sedikit senyuman.

Marina Batam 2, batam

Pemandangan dari atas kapal Marina Batam 2

Marina Batam 2

Tali temali

Marina Batam 2

Dari atas kapal Marina Batam 2

Disepanjang tepi laut dekat pelabuhan  nampak tertata rapi tak seperti tahun-tahun kemarin. Penataannya mirip pantai Losari di Makassar. Pohon-pohon ditanam di pinggir jalan, sayangnya tak mampu menahan panas yang menyengat. Aku memilih untuk berteduh di bawah tugu berbentuk daun yang tak tahu maknanya dan tak hendak mencari tahu. Dikejauhan aku melihat sebuah pulau kecil. Penyengat nama pulau itu. Pulau yang menjadi bagian sejarah imporium kerajaan Melayu dimasa lalu, pulau  yang melahirkan gurindam 12 yang terkenal itu dan  pulau kecil yang melahirkan bahasa pemersatu yang digunakan sebuah negara besar bernama Indonesia. Lekat kupandangi pulau  yang terakhir aku kunjungi sekitar 5 tahun yang lalu. Sebentar lagi aku akan menuju kesana.

Pelabuhan sri bintan pura, tanjung pinang

Tiba dipelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang

pelabuhan sri bintan pura, tanjung pinang

Portir yang siap membantu penumpang kapal mengangkat barang-barang

pelabuhan sri bintan pura, tanjung pinang

Pelabuhan domestik Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang

Selesai makan siang, aku berjalan menyusuri lorong toko menuju pelabuhan Penyengat.  Sebuah pelabuhan kecil yang letaknya persis disebelah pelabuhan Sri Bintan Pura.  Tua namun masih terawat baik, itu kesanku. Aku mendaftarkan diri menjadi penumpang dan meraih life jacket yang disediakan. Kiranya karena kejadian beberapa waktu lalu dimana sebuah kapal kayu yang biasa disebut pompong terbalik dan menewaskan beberapa penumpangnya membuat otoritas jadi memperhatikan keselamatan penumpang. Sayangnya kenapa bangsa ini selalu belajar jika sudah ada kejadian yang menelan korban jiwa ?

Tanjung Pinang

Di Tanjung Pinang dengan latar pulau Penyengat

Pompong melaju,  suara mesin tempel begitu berisik  tak seimbang dengan kecepatannya. Beberapa kali berselisih dengan kapal yang lebih besar nakhoda terpaksa melambatkan kecepatannya karena khawatir ombak membalikkan kapal. Sesekali air laut masuk kedalam pompong dan membuat kacamataku berbintik terkena air asin. Sisi lengan bajuku juga ikut basah karena percikan itu.  Sebagian besar penumpang sepertinya adalah penduduk pulau Penyengat. Rata-rata mereka  berbicara dengan logat Melayu  yang kental. Sangat mirip dengan bahasa yang dipakai di Semanjung Malaysia. Sejenak aku berpikir ini Malaysia atau Indonesia 🙂

Tanjung Pinang

Gerbang dermaga ke Pulau Penyengat, banyak terdapat penjual otak-otak disekitarnya

pompong

Suasana di dalam pompong menuju pulau Penyengat

Hanya butuh 15 menit pompong sampai ke tujuan. Dengan beban ransel yang lumayan berat aku terhuyung menaiki tangga dermaga, didepanku terlihat bangunan berwarna kuning terang dengan ujung menara lancip. Masjid Sultan Riau batinku dan selamat datang di Pulau Penyengat.

BECAK MEDAN

Tag

, , , , , , , ,

Becak medan

Becak motor (Fujifilm Xpro2, lensa xf 35 mm f 2 wr)

Becak medan mengacu pada kenderaan roda tiga, dimana sisi kiri pengemudi terdapat tempat duduk penumpang. Istilah becak medan digunakan untuk membedakannya dengan becak yang  beroperasi di pulau jawa, khususnya Jakarta (sampai dengan becak dilarang beroperasi di ibu kota) dimana posisi pengemudi berada dibelakang penumpang.

Dimasa jayanya dulu becak Medan terbagi menjadi becak dayung, dimana penggerak kenderaan ini adalah sepeda mekanis dan seluruhnya menggunakan tenaga manusia, sementara yang lainnya biasa disebut becak mesin yang menggunakan sepeda motor DKW 80 cc.  Namun keduanya sudah sangat langka kini. Sebagai gantinya  becak Medan menggunakan sepeda motor buatan Jepang atau Cina dan sebutan becak mesin berganti menjadi betor alias becak motor. Hanya satu hal yang tak berubah dari dulu hingga kini, pengemudinya tetaplah dipanggil abang becak atau tukang becak.

Gambar

TELEPON UMUM COIN

Tag

, , , , , , , , ,

Fuji film X Pro 2, street photography, medan

Telepon umum (Fujifilm X pro 2, lensa Fujinon XF 35 mm f 2 WR)

Sebelum dunia memasuki era digital, telepon umum sempat menjadi andalan dalam melakukan komunikasi jarak jauh. Bermodal koin rupiah, tak jarang orang antri untuk menyampaikan berita atau hanya untuk sekedar bertegur sapa. Kini semua nyaris hanya tinggal cerita, terbiar tanpa ada yang mengingat betapa dulu ia pernah berjasa.