Tag

, , , , , , ,


Pagi itu mendung, mentari malu-malu menampakkan diri di cakrawala. Rumput basah sisa hujan tadi malam bercampur dengan embun. Wangi lautan mendominasi udara yang masuk kedalam kerongkongan. Satu persatu teman-teman mulai terjaga dari mimpinya. Aku sempat berkeliling disekitar rumah tempat kami menginap. Beberapa anak kecil mengenakan seragam pramuka dan segera pergi kesekolah.

Pulau bank, Fujifilm xpro2
Bersiap ke sekolah (Fujifilm Xpro2/14 mm f2.8)

Persiapan hari ini kami mulai dengan sarapan disebuah warung. Rencana disusun ulang dari situ.  Island hopping menggunakan perahu menjadi kegiatan wajib buat pengunjung. Mengingat jumlah pulau yang mencapai 99 buah baik yang dihuni atau kosong tak berpenghuni, membuat berkunjung kebeberapa pulau saja menjadi pilihan realistis

Pulau banyak, garasi kata,fujifilm xpro2
Menuju dermaga (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)

Selesai sarapan, gerimis kembali turun. Sementara tekong yang akan membawa kami tak nampak batang hidungnya. Kami hanya berdiam diri ditepi dermaga, menunggu tanpa kejelasan. Aku sendiri menyempatkan diri berbincang dengan seorang bapak yang berprofesi sebagai nelayan.

Pulau banyak
Sebelum naik perahu (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)
Pulau banyak
Menjahit jaring (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)

Ketika hujan mulai reda tapi tekong tak juga tiba. Sepertinya ia enggan berangkat. Beberapa perahu bermesin tempel yang membawa kelompok pengunjung lain sudah bergerak. Cuaca mulai terang,  namun diujung langit  nampak awan hitam bergelayutan.

Perlengkapan kami Sudah  tersusun rapi dalam perahu, ditutup plastik agar tak basah. Rencananya pulau pertama yang akan kami kunjungi adalah pulau Sikandang sementara pulau terakhir pulau Palambak yang sekaligus menjadi tempat kami bermalam.

Ketika yang ditunggu tiba kami memulai perjalanan. Walaupun langit kadang  masih mendung dan sesekali turun hujan gerimis. Tapi air laut yang jernih menampakkan dasarnya, membuat hati tak henti-henti berdecak kagum. Tiapkali gelombang datang, teman-teman seperti anak kecil berteriak senang. Tak terasa satu jam berlalu, berlahan boat merapat ke bibir pantai.

Pulau Sikandang memiliki garis pantai yang cukup panjang dengan pasir putih berkilau bak mutiara. Tak ada penduduk yang menetap di pulau ini kecuali hanya beberapa penginapan dari kayu yang nampak sederhana. Tamu- tamu asing berkulit putih, berambut pirang  dan nyaris tak berbusana duduk santai menikmati suasana yang mungkin akan sulit didapat di negara tempat asalnya. Ada juga sebuah warung kecil yang dijaga oleh laki-laki paruh baya  dengan barang dagangan seadanya. Laki-laki yang Nampak sekali kesepian karena tak ada teman berbagi cerita. Ia sempat berkisah tentang masa lalunya yang bergelimang uang dan harta. Karena luka hati akhirnya ia memutuskan untuk berdiam menyepi ditengah samudera. 

Pulau banyak
Pulau Sikandang (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)

Tak terlalu lama disini, kami kembali ke perahu menuju perhentian berikutnya. Seiring jabatan tangan dari sang penjaga warung, kami meninggalkan pulau Sikandang. 

sikandang
Mendung (iPhone X)
sikandang
Bawah air (Gopro Hero 4)
Sikandang
Bermain (iPhone X)

Hanya sepuluh menit, mesin perahu kembali  dimatikan dan jangkar dilempar.  Dari permukaan kami melihat panorama tak biasa dibawah air. Terumbu karang dan ikan warna-warni bebas berkeliaran.

Aku melompat dari perahu masuk kedalam air. Sayangnya cuaca memang tak mau kompromi. Arus  deras membuat tubuhku terseret menjauhi perahu. Aku mencoba menahan arus dengan berpijak diatas karang. Tajam karang merobek kulit dan menembus daging menyebabkan rasa nyeri. Aku berenang kembali mendekati perahu. Nafasku hampir habis sewaktu berhasil naik dan terduduk di geladak. 

Sikandang
Penjaga (iPhone X)

Ku putuskan tak lagi turun, kaki masih saja mengeluarkan darah, sementara peralatan P3K ada didalam tas yang tak mungkin dibuka. Hujan kembali turun dan langit semakin redup. Aku yang awalnya cukup sabar menunggu teman-temanku akhirnya berteriak meminta mereka  semua untuk naik ke perahu .

Suasana  berubah menjadi gelap. Lautan yang awalnya hijau kebiruan berubah menjadi hitam pekat. Gelombang besar datang silih berganti. Wajah-wajah ceria sekarang menjadi pucat pasi. Nampak dari samping gelombang setinggi 3 meter datang perlahan menghampiri, siap menghantam lambung kapal dan menumpahkan isinya. Jantungku berdebar tak beraturan. Ayat suci bergemuruh didalam hati. Satu hantaman saja akan membuat semua cerita ini berakhir didasar samudera.

Pulau banyak
Waktu badai reda (Gopro hero 4)

Sejurus kemudian, tekong menikung tajam, meliuk-liuk diantara gelombang. Sesekali perahu  merangkak naik kepuncak gelombang, lalu mesin  dipelankan. Perahu terhempas kembali kedasar gelombang. Allahakbar…. Allahuakbar, hanya kata itu yang berulang-ulang terucap pelan. 

Kali ini kami  selamat dari gelombang besar, tapi seolah tak mau berhenti, gelombang datang silih berganti. Tanpa sadar tanganku menggenggam erat sisi perahu, seakan-akan menjadi pegangan yang akan menyelamatkan . Wajah-wajah dibelakangku tak kalah tegang. Meski aku tak tahu persis apa yang berkecamuk dikepala mereka, tapi bisa dipastikan keadaan mereka tak lebih baik daripada aku.

Hanya wajah tekong yang nampak tenang. Ia membakar rokok dan menghisap dalam-dalam. Matanya  awas melihat kekiri dan kanan. Tak nampak raut tegang diwajahnya. Mungkin hanya itu alasanku untuk yakin bahwa kami akan selamat sampai kedaratan

Pulau banyak
Terdampar (Fujifil Xpro2/14 mm f 2.8)
Pulau banyak
Tanpa nama (Fujifil Xpro2/14 mm f 2.8)

Perlahan gelombang mulai mengecil. Tiga puluh menit yang sangat mencekam baru saja kami lewati. Sebuah pulau yang sampai sekarang aku tak tahu namanya sudah dekat didepan mata. Saat dasar perahu tertumbuk ke pasir. Kami berhamburan ke daratan dan meluapkan semua emosi disana.

Pulau banyak
Terdampar (Fujifilm Xpro 2/14 mm f 2.8)
Pulau banyak
Terdampar (Fujifil Xpro 2/14 mm f 2.8)

Gila…! Itu komentar pertama yang aku dengar dari setiap orang yang mendengar cerita kami. Bahkan penduduk lokal tak akan berani ke pulau Sikandang dengan cuaca seperti tadi. Tapi waktu mereka diberitahu siapa nakhoda perahu kami, mereka balik memuji. “Hantu laut” itu julukannya.

Ketika hati mulai tenang, kami kembali ke perahu dan berlabuh ke pulau Panjang yang hanya 15 menit dari tempat kami terdampar

Kami akan memutuskan kelanjutan cerita ini dari sana. .

Iklan