Tag

, , , , , , , ,


Kehidupan itu laksana lautan. Orang yang tak hati-hati mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar. Maka karamlah ia digulung ombak dan gelombang. Hilang ditengah samudera yang luas (Hamka)

Gugusan pulau yang berada di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah barat pulau Sumatera. Pulau Banyak termasuk wilayah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nangroe Aceh Darusalam. Ditempuh lewat perjalanan darat dari Medan, membelah pulau Sumatera melewati dataran tinggi Karo dan berhenti di pelabuhan Aceh Singkil dan dilanjutkan dengan perjalanan melintasi samudera

Aceh Singkil
Warung kopi di sebelah dermaga biasanya menjadi tempat istirahat traveller sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Banyak (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f 2.8)
Menikmati segelas kopi hangat sebelum berangkat (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
Suasana dermaga di pagi hari (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
aceh singkil, pulau banyak
Pelabuhan rakyat (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
Aceh singkil
Diatas geladak, menunggu upacara pengibaran bendera usai (Fujifil Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Hari itu jumat bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Aku dan teman-teman menikmati secangkir kopi hitam pekat di sebuah warung dekat dermaga menunggu pengangkutan kapal motor yang akan membawa kami ke Pulau Balai yang merupakan salah satu pulau diantara gugusan pulau dan menjadi pusat administrasi kecamatan Pulau Banyak

Di kejauhan terlihat pelabuhan yang lebih besar, kiranya itu adalah pelabuhan feri penyeberangan yang secara priodik membawa penumpang dan barang dengan rute Singkil – Pulau balai- Nias dan sebaliknya. Dengan pertimbangan waktu, sejak awal kami memang memutuskan untuk tidak menggunakan jasa kapal feri. Pilihan yang menjadi awal sebuah petualangan.

Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, matahari mulai naik dan panas terasa mencekik . Aku dan teman-teman, sudah bersiap mencari posisi duduk di geladak kapal kayu, bercampur dengan barang-barang dan para penumpang lainnya. Waktu berlalu kapal tak juga bergerak. Tak ada tanda-tanda tekong (sebutan untuk nakhoda kapal) memberi perintah jalan. Penumpang tempak gelisah dan mulai bertanya kepada awak kapal yang lalu lalang. Jawabannya menunggu upacara pengibaran bendera usai ?

Semakin siang, perahu penuh dengan barang, bahan bangunan mendominasi geladak, manusia terjepit diantaranya. Permukaan air yang tadinya tak terjangkau kaki, mendadak menjadi dekat sekali. Petugas dari dinas Perhubungan mencatat data penumpang. Hmmm… mungkin karena tragedi kapal di danau Toba sebelumnya yang menelan banyak korban, membuat mereka jera.

Bisik-bisik orang di pelabuhan bahwa laut sedang tak ramah membuat orang-orang di sekitar dermaga melambaikan tangan dan mengucapkan doa sewaktu kapal perlahan meninggalkan pelabuhan.

Sesaat setelah kapal meninggalkan pelabuhan (Smartphone Xiaomi Mi A1)

30 menit kapal kayu melaju, pelabuhan dibelakang mulai samar sementara di depan lautan nampak bersatu dengan langit. Gelombang mulai datang menggulung. Firasatku berkata bahwa ini tak baik. Berkali-kali gelombang menabrakkan dirinya ke lambung kapal dan membuat air laut masuk membasahi semua yang ada di dalamnya. Penumpang terdiam, tak ada lagi canda. Hanya wajah-wajah tegang mulai mengucap doa. Sebagian lagi memilih tidur ????? Ahaa…. mungkin mereka berharap, jika kapal ini tenggelam mereka mati dalam keadaan tidur .

Mesin yang awalnya meraung keras, sekarang mulai lirih merintih. Tekong menurunkan kecepatan dan membiarkan kapal terombang-ambing mendompleng gelombang. Tak lama ia memutuskan untuk memutar haluan ke pulau terdekat yang tak berpenghuni. Sauh dilempar, tapi tak ada informasi yang jelas tentang apa yang terjadi dan apa yang akan dilakukan. Hanya kasak-kusuk bahwa semakin ke tengah gelombang semakin besar. Tak mungkin kapal kayu ini bisa melewatinya.

Satu jam menunggu kepastian, Tak ada suara selain riak air dan sesekali tawa kecil dari penumpang yang mulai bosan. Tiba-tiba mesin menyala, kapal bergerak merangkak balik ke pelabuhan. Rasa syukur karena lepas dari ketakutan bercampur dongkol karena waktu yang terbuang percuma.

kapal merapat ke salah satu pelabuhan. Meski berpindah dermaga, pelabuhan feri masih jauh terlihat oleh mata . Tak ada pilihan, jika tak ingin belasan jam kebelakang terbuang percuma, kami harus mengejar feri yang informasinya akan berangkat pukul 2 siang.

Kami berbagi tugas, beberapa orang membeli makanan untuk santap siang, sisanya mengurus barang dan antri membeli tiket. Waktu yang sempit memaksa kami berlari diantara teriknya matahari dan panasnya pasir pantai. Keringat bercucuran sewaktu kami sampai ke terminal pelabuhan .

Diruangan yang pengap , terjadi keributan antara petugas yang tak tahu diri dengan penumpang yang telah hilang kesabaran. Suasana semakin tidak nyaman. Teriakan-teriakan yang tak perlu menjadi warna proses pembelian tiket. Seorang petugas laki-laki dengan tampang sangar dan mata melotot keluar dari ruangan dan mengusir calon penumpang,

Kapal feri yang akan membawa kami ke Pulau Banyak (Xiaomi MiA1)
feri penumpang,
pulau banyak
Lantai 1 kapal feri (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Tak mau kalah calon penumpang balik membentak, sehingga bisa ditebak suara bergemuruh mengalahkan ganasnya samudera. Rasa lelah membuat aku merasa diam adalah pilihan terbaik. Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya suasana kembali tenang dan tiket akhirnya kami pegang.

Ruangan penumpang (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
feri peyebrangan
pulau banyak
Bagian buritan kapal (Fuji Film Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Masalah tak juga mau pergi, sampai di gerbang feri, petugas memeriksa tiket, lacur ternyata tiket kami yang di pegang salah seorang temanku ternyata kurang. Akibatnya beberapa dari kami ditolak masuk.

Rasanya tiket tak mungkin hilang, pasti petugas yang salah memberi dan kami yang teledor tak menghitung.

Senja dari atas feri (Fujifilm XPro2/XF 14 mm f2.8)

Kapal feri cukup besar untuk menampung ratusan penumpang dan barang. Sejatinya cukup kokoh menerjang gelombang. Hari sudah menjelang sore saat suara terompet tanda jangkar kapal dinaikkan. Panas, kotor dan segala macam bau menyengat ada disitu. Sebagian turis mancanegara lebih memilih berdiri di geladak dekat buritan daripada duduk di kursi penumpang. Gelombang yang cukup besar mampu membuat feri sedikit bergoyang, namun dengan gagah ia pantang menyerah membelah biru pekat lautan.

Senja turun, langit berwarna kuning kemerahan. Mesin feri terus meradang.ย  aku sempat mencoba mengabadikan moment matahari terbenam, dan saat itu nampak setitik daratan, kiranya pulau Balai sudah dekat. Jam 19.30 wib feri merapat ke pelabuhan.

bule
tourist
pulau banyak
Penumpang sedang antri dipintu keluar saat feri bersandar di pelabuhan Pulau Banyak (Xiaomi mi A1)

Kami terlambat lima setengah jam dari waktu yang direncanakan, akibatnya muncul dilema apakah perjalanan dilanjutkan ke Pulau Palambak yang menjadi tujuan awal tempat menginap, atau bertahan di pulau Balai. Perahu kayu bermesin tempel sudah siap di Pelabuhan. Nasehat sang tekong supaya kami menunda perjalanan, lautan masih marah, begitu katanya.

Rumah yang menjadi tempat kami beristirahat (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Rasa takut dan kesal bergantian dikepala. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk mengikuti naluri takut kami. Malam itu kami menginap di pulau Balai dan akan melanjutan perjalanan esok hari.

Apa daya, tak ada penginapan yang tersisa. Untung atas bantuan seorang penduduk, akhirnya kami dapat tempat berlindung. Sebuah rumah panggung berlantai dan berdinding kayu yang sudah mulai lapuk. Rumah yang sudah lama tak dihuni menjadi satu-satunya tempat tersisa. Tempat yang lebih dari cukup untuk kami istirahat sambil menunggu pagi.

pulau banyak
Bagian dalam bangunan (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f 2.8)

Aku tertidur pulas tanpa mimpi dan tak sadar hujan turun dengan deras menembus atap dan membasahi lantai di sekitar tempatku berbaring.

pulau banyak
Kami menyambut pagi (Fujifilm Xpro 2/XF 14 mm f 2.8)

Azan subuh dari masjid berkumandang. Suara merdu muazin mengaktifkan seluruh indra. Hari ini perjalanan dilanjutkan. Mengarungi samudera dan berharap akan kebaikan alam semesta.



 

 

Iklan