TIGA PULUH MENIT DI SAMUDERA HINDIA

Tag

, , , , , , ,

Pagi itu mendung, mentari malu-malu menampakkan diri di cakrawala. Rumput basah sisa hujan tadi malam bercampur dengan embun. Wangi lautan mendominasi udara yang masuk kedalam kerongkongan. Satu persatu teman-teman mulai terjaga dari mimpinya. Aku sempat berkeliling disekitar rumah tempat kami menginap. Beberapa anak kecil mengenakan seragam pramuka dan segera pergi kesekolah.

Pulau bank, Fujifilm xpro2
Bersiap ke sekolah (Fujifilm Xpro2/14 mm f2.8)

Persiapan hari ini kami mulai dengan sarapan disebuah warung. Rencana disusun ulang dari situ.  Island hopping menggunakan perahu menjadi kegiatan wajib buat pengunjung. Mengingat jumlah pulau yang mencapai 99 buah baik yang dihuni atau kosong tak berpenghuni, membuat berkunjung kebeberapa pulau saja menjadi pilihan realistis

Pulau banyak, garasi kata,fujifilm xpro2
Menuju dermaga (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)

Selesai sarapan, gerimis kembali turun. Sementara tekong yang akan membawa kami tak nampak batang hidungnya. Kami hanya berdiam diri ditepi dermaga, menunggu tanpa kejelasan. Aku sendiri menyempatkan diri berbincang dengan seorang bapak yang berprofesi sebagai nelayan.

Pulau banyak
Sebelum naik perahu (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)
Pulau banyak
Menjahit jaring (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)

Ketika hujan mulai reda tapi tekong tak juga tiba. Sepertinya ia enggan berangkat. Beberapa perahu bermesin tempel yang membawa kelompok pengunjung lain sudah bergerak. Cuaca mulai terang,  namun diujung langit  nampak awan hitam bergelayutan.

Perlengkapan kami Sudah  tersusun rapi dalam perahu, ditutup plastik agar tak basah. Rencananya pulau pertama yang akan kami kunjungi adalah pulau Sikandang sementara pulau terakhir pulau Palambak yang sekaligus menjadi tempat kami bermalam.

Ketika yang ditunggu tiba kami memulai perjalanan. Walaupun langit kadang  masih mendung dan sesekali turun hujan gerimis. Tapi air laut yang jernih menampakkan dasarnya, membuat hati tak henti-henti berdecak kagum. Tiapkali gelombang datang, teman-teman seperti anak kecil berteriak senang. Tak terasa satu jam berlalu, berlahan boat merapat ke bibir pantai.

Pulau Sikandang memiliki garis pantai yang cukup panjang dengan pasir putih berkilau bak mutiara. Tak ada penduduk yang menetap di pulau ini kecuali hanya beberapa penginapan dari kayu yang nampak sederhana. Tamu- tamu asing berkulit putih, berambut pirang  dan nyaris tak berbusana duduk santai menikmati suasana yang mungkin akan sulit didapat di negara tempat asalnya. Ada juga sebuah warung kecil yang dijaga oleh laki-laki paruh baya  dengan barang dagangan seadanya. Laki-laki yang Nampak sekali kesepian karena tak ada teman berbagi cerita. Ia sempat berkisah tentang masa lalunya yang bergelimang uang dan harta. Karena luka hati akhirnya ia memutuskan untuk berdiam menyepi ditengah samudera. 

Pulau banyak
Pulau Sikandang (Fujifilm Xpro2/14 mm f 2.8)

Tak terlalu lama disini, kami kembali ke perahu menuju perhentian berikutnya. Seiring jabatan tangan dari sang penjaga warung, kami meninggalkan pulau Sikandang. 

sikandang
Mendung (iPhone X)
sikandang
Bawah air (Gopro Hero 4)
Sikandang
Bermain (iPhone X)

Hanya sepuluh menit, mesin perahu kembali  dimatikan dan jangkar dilempar.  Dari permukaan kami melihat panorama tak biasa dibawah air. Terumbu karang dan ikan warna-warni bebas berkeliaran.

Aku melompat dari perahu masuk kedalam air. Sayangnya cuaca memang tak mau kompromi. Arus  deras membuat tubuhku terseret menjauhi perahu. Aku mencoba menahan arus dengan berpijak diatas karang. Tajam karang merobek kulit dan menembus daging menyebabkan rasa nyeri. Aku berenang kembali mendekati perahu. Nafasku hampir habis sewaktu berhasil naik dan terduduk di geladak. 

Sikandang
Penjaga (iPhone X)

Ku putuskan tak lagi turun, kaki masih saja mengeluarkan darah, sementara peralatan P3K ada didalam tas yang tak mungkin dibuka. Hujan kembali turun dan langit semakin redup. Aku yang awalnya cukup sabar menunggu teman-temanku akhirnya berteriak meminta mereka  semua untuk naik ke perahu .

Suasana  berubah menjadi gelap. Lautan yang awalnya hijau kebiruan berubah menjadi hitam pekat. Gelombang besar datang silih berganti. Wajah-wajah ceria sekarang menjadi pucat pasi. Nampak dari samping gelombang setinggi 3 meter datang perlahan menghampiri, siap menghantam lambung kapal dan menumpahkan isinya. Jantungku berdebar tak beraturan. Ayat suci bergemuruh didalam hati. Satu hantaman saja akan membuat semua cerita ini berakhir didasar samudera.

Pulau banyak
Waktu badai reda (Gopro hero 4)

Sejurus kemudian, tekong menikung tajam, meliuk-liuk diantara gelombang. Sesekali perahu  merangkak naik kepuncak gelombang, lalu mesin  dipelankan. Perahu terhempas kembali kedasar gelombang. Allahakbar…. Allahuakbar, hanya kata itu yang berulang-ulang terucap pelan. 

Kali ini kami  selamat dari gelombang besar, tapi seolah tak mau berhenti, gelombang datang silih berganti. Tanpa sadar tanganku menggenggam erat sisi perahu, seakan-akan menjadi pegangan yang akan menyelamatkan . Wajah-wajah dibelakangku tak kalah tegang. Meski aku tak tahu persis apa yang berkecamuk dikepala mereka, tapi bisa dipastikan keadaan mereka tak lebih baik daripada aku.

Hanya wajah tekong yang nampak tenang. Ia membakar rokok dan menghisap dalam-dalam. Matanya  awas melihat kekiri dan kanan. Tak nampak raut tegang diwajahnya. Mungkin hanya itu alasanku untuk yakin bahwa kami akan selamat sampai kedaratan

Pulau banyak
Terdampar (Fujifil Xpro2/14 mm f 2.8)
Pulau banyak
Tanpa nama (Fujifil Xpro2/14 mm f 2.8)

Perlahan gelombang mulai mengecil. Tiga puluh menit yang sangat mencekam baru saja kami lewati. Sebuah pulau yang sampai sekarang aku tak tahu namanya sudah dekat didepan mata. Saat dasar perahu tertumbuk ke pasir. Kami berhamburan ke daratan dan meluapkan semua emosi disana.

Pulau banyak
Terdampar (Fujifilm Xpro 2/14 mm f 2.8)
Pulau banyak
Terdampar (Fujifil Xpro 2/14 mm f 2.8)

Gila…! Itu komentar pertama yang aku dengar dari setiap orang yang mendengar cerita kami. Bahkan penduduk lokal tak akan berani ke pulau Sikandang dengan cuaca seperti tadi. Tapi waktu mereka diberitahu siapa nakhoda perahu kami, mereka balik memuji. “Hantu laut” itu julukannya.

Ketika hati mulai tenang, kami kembali ke perahu dan berlabuh ke pulau Panjang yang hanya 15 menit dari tempat kami terdampar

Kami akan memutuskan kelanjutan cerita ini dari sana. .

Iklan

PULAU BANYAK

Tag

, , , , , , , ,

Kehidupan itu laksana lautan. Orang yang tak hati-hati mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar. Maka karamlah ia digulung ombak dan gelombang. Hilang ditengah samudera yang luas (Hamka)

Gugusan pulau yang berada di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah barat pulau Sumatera. Pulau Banyak termasuk wilayah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nangroe Aceh Darusalam. Ditempuh lewat perjalanan darat dari Medan, membelah pulau Sumatera melewati dataran tinggi Karo dan berhenti di pelabuhan Aceh Singkil dan dilanjutkan dengan perjalanan melintasi samudera

Aceh Singkil
Warung kopi di sebelah dermaga biasanya menjadi tempat istirahat traveller sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Banyak (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f 2.8)
Menikmati segelas kopi hangat sebelum berangkat (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
Suasana dermaga di pagi hari (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
aceh singkil, pulau banyak
Pelabuhan rakyat (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
Aceh singkil
Diatas geladak, menunggu upacara pengibaran bendera usai (Fujifil Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Hari itu jumat bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Aku dan teman-teman menikmati secangkir kopi hitam pekat di sebuah warung dekat dermaga menunggu pengangkutan kapal motor yang akan membawa kami ke Pulau Balai yang merupakan salah satu pulau diantara gugusan pulau dan menjadi pusat administrasi kecamatan Pulau Banyak

Di kejauhan terlihat pelabuhan yang lebih besar, kiranya itu adalah pelabuhan feri penyeberangan yang secara priodik membawa penumpang dan barang dengan rute Singkil – Pulau balai- Nias dan sebaliknya. Dengan pertimbangan waktu, sejak awal kami memang memutuskan untuk tidak menggunakan jasa kapal feri. Pilihan yang menjadi awal sebuah petualangan.

Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, matahari mulai naik dan panas terasa mencekik . Aku dan teman-teman, sudah bersiap mencari posisi duduk di geladak kapal kayu, bercampur dengan barang-barang dan para penumpang lainnya. Waktu berlalu kapal tak juga bergerak. Tak ada tanda-tanda tekong (sebutan untuk nakhoda kapal) memberi perintah jalan. Penumpang tempak gelisah dan mulai bertanya kepada awak kapal yang lalu lalang. Jawabannya menunggu upacara pengibaran bendera usai ?

Semakin siang, perahu penuh dengan barang, bahan bangunan mendominasi geladak, manusia terjepit diantaranya. Permukaan air yang tadinya tak terjangkau kaki, mendadak menjadi dekat sekali. Petugas dari dinas Perhubungan mencatat data penumpang. Hmmm… mungkin karena tragedi kapal di danau Toba sebelumnya yang menelan banyak korban, membuat mereka jera.

Bisik-bisik orang di pelabuhan bahwa laut sedang tak ramah membuat orang-orang di sekitar dermaga melambaikan tangan dan mengucapkan doa sewaktu kapal perlahan meninggalkan pelabuhan.

Sesaat setelah kapal meninggalkan pelabuhan (Smartphone Xiaomi Mi A1)

30 menit kapal kayu melaju, pelabuhan dibelakang mulai samar sementara di depan lautan nampak bersatu dengan langit. Gelombang mulai datang menggulung. Firasatku berkata bahwa ini tak baik. Berkali-kali gelombang menabrakkan dirinya ke lambung kapal dan membuat air laut masuk membasahi semua yang ada di dalamnya. Penumpang terdiam, tak ada lagi canda. Hanya wajah-wajah tegang mulai mengucap doa. Sebagian lagi memilih tidur ????? Ahaa…. mungkin mereka berharap, jika kapal ini tenggelam mereka mati dalam keadaan tidur .

Mesin yang awalnya meraung keras, sekarang mulai lirih merintih. Tekong menurunkan kecepatan dan membiarkan kapal terombang-ambing mendompleng gelombang. Tak lama ia memutuskan untuk memutar haluan ke pulau terdekat yang tak berpenghuni. Sauh dilempar, tapi tak ada informasi yang jelas tentang apa yang terjadi dan apa yang akan dilakukan. Hanya kasak-kusuk bahwa semakin ke tengah gelombang semakin besar. Tak mungkin kapal kayu ini bisa melewatinya.

Satu jam menunggu kepastian, Tak ada suara selain riak air dan sesekali tawa kecil dari penumpang yang mulai bosan. Tiba-tiba mesin menyala, kapal bergerak merangkak balik ke pelabuhan. Rasa syukur karena lepas dari ketakutan bercampur dongkol karena waktu yang terbuang percuma.

kapal merapat ke salah satu pelabuhan. Meski berpindah dermaga, pelabuhan feri masih jauh terlihat oleh mata . Tak ada pilihan, jika tak ingin belasan jam kebelakang terbuang percuma, kami harus mengejar feri yang informasinya akan berangkat pukul 2 siang.

Kami berbagi tugas, beberapa orang membeli makanan untuk santap siang, sisanya mengurus barang dan antri membeli tiket. Waktu yang sempit memaksa kami berlari diantara teriknya matahari dan panasnya pasir pantai. Keringat bercucuran sewaktu kami sampai ke terminal pelabuhan .

Diruangan yang pengap , terjadi keributan antara petugas yang tak tahu diri dengan penumpang yang telah hilang kesabaran. Suasana semakin tidak nyaman. Teriakan-teriakan yang tak perlu menjadi warna proses pembelian tiket. Seorang petugas laki-laki dengan tampang sangar dan mata melotot keluar dari ruangan dan mengusir calon penumpang,

Kapal feri yang akan membawa kami ke Pulau Banyak (Xiaomi MiA1)
feri penumpang,
pulau banyak
Lantai 1 kapal feri (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Tak mau kalah calon penumpang balik membentak, sehingga bisa ditebak suara bergemuruh mengalahkan ganasnya samudera. Rasa lelah membuat aku merasa diam adalah pilihan terbaik. Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya suasana kembali tenang dan tiket akhirnya kami pegang.

Ruangan penumpang (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)
feri peyebrangan
pulau banyak
Bagian buritan kapal (Fuji Film Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Masalah tak juga mau pergi, sampai di gerbang feri, petugas memeriksa tiket, lacur ternyata tiket kami yang di pegang salah seorang temanku ternyata kurang. Akibatnya beberapa dari kami ditolak masuk.

Rasanya tiket tak mungkin hilang, pasti petugas yang salah memberi dan kami yang teledor tak menghitung.

Senja dari atas feri (Fujifilm XPro2/XF 14 mm f2.8)

Kapal feri cukup besar untuk menampung ratusan penumpang dan barang. Sejatinya cukup kokoh menerjang gelombang. Hari sudah menjelang sore saat suara terompet tanda jangkar kapal dinaikkan. Panas, kotor dan segala macam bau menyengat ada disitu. Sebagian turis mancanegara lebih memilih berdiri di geladak dekat buritan daripada duduk di kursi penumpang. Gelombang yang cukup besar mampu membuat feri sedikit bergoyang, namun dengan gagah ia pantang menyerah membelah biru pekat lautan.

Senja turun, langit berwarna kuning kemerahan. Mesin feri terus meradang.  aku sempat mencoba mengabadikan moment matahari terbenam, dan saat itu nampak setitik daratan, kiranya pulau Balai sudah dekat. Jam 19.30 wib feri merapat ke pelabuhan.

bule
tourist
pulau banyak
Penumpang sedang antri dipintu keluar saat feri bersandar di pelabuhan Pulau Banyak (Xiaomi mi A1)

Kami terlambat lima setengah jam dari waktu yang direncanakan, akibatnya muncul dilema apakah perjalanan dilanjutkan ke Pulau Palambak yang menjadi tujuan awal tempat menginap, atau bertahan di pulau Balai. Perahu kayu bermesin tempel sudah siap di Pelabuhan. Nasehat sang tekong supaya kami menunda perjalanan, lautan masih marah, begitu katanya.

Rumah yang menjadi tempat kami beristirahat (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f2.8)

Rasa takut dan kesal bergantian dikepala. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk mengikuti naluri takut kami. Malam itu kami menginap di pulau Balai dan akan melanjutan perjalanan esok hari.

Apa daya, tak ada penginapan yang tersisa. Untung atas bantuan seorang penduduk, akhirnya kami dapat tempat berlindung. Sebuah rumah panggung berlantai dan berdinding kayu yang sudah mulai lapuk. Rumah yang sudah lama tak dihuni menjadi satu-satunya tempat tersisa. Tempat yang lebih dari cukup untuk kami istirahat sambil menunggu pagi.

pulau banyak
Bagian dalam bangunan (Fujifilm Xpro2/XF 14 mm f 2.8)

Aku tertidur pulas tanpa mimpi dan tak sadar hujan turun dengan deras menembus atap dan membasahi lantai di sekitar tempatku berbaring.

pulau banyak
Kami menyambut pagi (Fujifilm Xpro 2/XF 14 mm f 2.8)

Azan subuh dari masjid berkumandang. Suara merdu muazin mengaktifkan seluruh indra. Hari ini perjalanan dilanjutkan. Mengarungi samudera dan berharap akan kebaikan alam semesta.



 

 

TAMAN BATU DARI UTARA

Tag

, , , , , , , , ,

Awalnya aku mengira hanya Belitong yang memiliki pantai dengan batuan besar. Pada kenyataannya pulau Natuna Besar juga menyimpan pesona yang tak kalah cantiknya. Lokasinya sendiri tak jauh dari Ranai, ibukota kabupaten Natuna. Pantai dipenuhi batu  dalam ukuran raksasa yang sampai sekarang masih menjadi misteri  proses pembentukannya. Taman batu Alif Stone Park bagai benteng raksasa yang melindungi pantai dari serbuan ombak yang tak henti-hentinya. Nama Alif stone park sendiri konon berasal dari batuan yang menonjol seperti huruf alif dalam bahasa Arab. Dilokasi ini juga terdapat rangka ikan paus yang menjadi salah satu daya tarik saat berkunjung.

Natuna
Bibir pantai dilihat dari ketinggian

Natuna
Salah satu pemandangan di pulau Natuna

Natuna
Nama Alif stone park sendiri konon berasal dari batu-batu yang menonjol seperti huruf alif dalam bahasa Arab. Dilokasi ini juga terdapat rangka ikan paus yang menjadi salah satu daya tarik saat berkunjung ke tempat ini.

natuna
Batuan dengan ukuran raksasa di taman batu Alif stone park

Pemandangan di salah satu sisi taman batu Alif stone park

FOUNTAIN PEN

Tag

, , , , ,

Setiap orang memiliki hobby.  Akupun demikian, niat awalnya menjadi kolektor  super car. Apa daya sampai hari ini aku tak kaya, jadi daripada gila, aku mencari benda lain yang yang lebih masuk akal untuk dikumpulkan, ditimang-timang, dibersihkan lantas disimpan untuk suatu saat dibuka kembali.

Pilihanku jatuh ke fountain pen atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan pulpen yang di adopsi dari bahasa Belanda vulfen, mengacu kepada alat tulis dengan tinta cair yang dapat diisi ulang dan memiliki komponen spesifik yang berbeda dengan alat tulis yang umumnya dikenal saat ini.

Disamping bentuknya yang cantik dan memiliki citarasa seni yang tinggi dalam pembuatannya,  fountain pen  bisa menghasilkan tulisan unik. Pada saat bosan, aku bisa menggunakannya untuk membuat sket gambar atau sekedar menggoreskan coretan diatas kertas

fountain pen

Sejarah fountain pen dimulai dari abad ke-10 pada masa khalifah Ma’ad al Mui’zz dari Mesir.  Beberapa sket yang dibuat oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16 juga diketahui menggunakan alat yang mirip fountain pen.

Bahan yang digunakan pada proses pembuatan adalah logam anti karat seperti stainless steel dan plastik.  Beberapa seri premium  menggunakan logam mulia, seperti seri sonnet keluaran Parker menggunakan emas untuk NIB dan beberapa bagian lainnya.

fountain pen, picasso

Meskipun dalam perkembangannya ditemukan rollerball pen yang lebih praktis, tapi fountain pen tetap banyak digunakan.  Bahkan di Eropa kalangan muda masih gemar menggunakan alat tulis ini.

Parker, Sheafer, Pelikan dan montblanc adalah beberapa merek yang diproduksi negara di benua Eropa. Sedangkan di Asia,  Jepang dan China juga memproduksi fountain pen dengan harga yang cukup terjangkau.

tinta fountain pen

Berani menjadi kolektor berarti harus berani menyiapkan dana. Fountain pen memiliki rentang harga yang cukup lebar. Mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah yang dapat dibeli di toko alat-alat tulis maupun di pasar online.

nib, fountain pen

fountain pen

Hilangkan pikiran tentang harga, karena seluruh fontain pen memiliki bagian-bagian yang sama

  1. NIB Bagian ujung fontain pen yang bersentuhan dengan kertas tulis terbuat dari baja tahan karat atau emas, bagian ini masih terbagi lagi berdasarkan ukuran maupun bentuk mata NIB yang disesuaikan dengan kegunaannya
  2. FED bagian yang menempel pada NIB, terbuat dari plastic bergerigi, bertujuan untuk menahan tinta agar tidak tumpah ke kertas
  3. TUBE merupakan bagian dari FED untuk menyalurkan tinta ke NIB
  4. TANK , tempat penyimpanan tinta (kamar tinta) dengan  sistem pompa atau cadrige.

fountain pen, parker

Keempat bagian tadi merupakan bagian yang pasti dimiliki oleh fountain pen apapun mereknya, sehingga dengan memahami keempat bagian tadi akan memudahkan dalam perawatannya.

Masalah umum yang sering terjadi pada saat fountain pen digunakan  adalah kerusakan pada NIB, penyebabnya karena benturan (terjatuh) atau cara penggunaan yang salah. Kebiasaan menggunakan rollerball pen yang  sedikit ditekan tidak bisa diaplikasikan kealat ini . Fountain pen  tidak perlu ditekan karena tinta akan mengalir dengan sendirinya dari kamar tinta kemata pena dengan bantuan kapilaritas dan gravitasi.

fountain pen

Selanjutnya fountain pen harus dibersihkan apabila tidak digunakan dalam waktu lama, karena tinta akan membeku dan membuat saluran tinta (TUBE) menjadi tersumbat. Cara membersihkannya dengan membuka keempat bagian dari fountain pen dan cuci dengan air dingin.  Jangan sekali-kali menggunakan air hangat atau air mendidih karena sifat logam yang akan memuai apabila dipanaskan,  akan menimbulkan kerusakan.

Keringkan dengan menggunakan tisu kertas, untuk menyerap sisa cairan yang masih tertinggal. Letakkan ditempat yang kering atau sebaiknya disimpan di dalam kotak yang disertakan pada saat pembelian. Untuk menghindarkan gesekan yang menyebabkan fountain pen menjadi tergores.

Selain sebagai benda koleksi fountain pen juga bisa dipakai sebagai kado yang tak lekang ditelan waktu.

 

 

KASET, PITA BERSUARA

Tag

, , , ,

Sudah sekian lama blog ini terabaikan, kesibukan seringkali menjadi alasan yang paling mudah untuk diucapkan, walaupun kemalasan adalah penyebab satu-satunya  aku tak menulis dalam beberapa waktu terakhir, dan sekarang aku mencobanya kembali

Peter Quill,   super hero yang  berkali-kali menyelamatkan galaxy selalu membawa walkman Sony sebagai bagian dari aksinya,  mengingatkanku pada setumpuk kaset yang tersusun rapi di dalam kotak bekas di sudut rumahku.

Aku membuka laman wikepedia, mencari tahu kapan kaset bermula. 1963 adalah tahun diperkenalkannya kaset oleh Phillips dan dibawa ke Amerika tahun 1964. Kaset dalam ejaan aslinya Cassette berasal dari bahasa Perancis berarti kotak kecil terdiri dari kumparan pita magnetik yang mampu merekam data dalam format suara.

Ditahun 70-an kaset adalah media yang paling umum untuk merekam di industri  musik menggantikan piringan hitam yang cenderung kurang praktis dan berharga mahal. Pada Era 80 an sampai dengan 90 menjadi puncak kejayaan kaset,  sampai saat sejarah itu  kembali terulang.

kaset, pita kaset, tape recorder

Koleksi kaset

Peran kaset ditahun 2000-an perlahan-lahan mulai tergantikan  dengan benda  baru  bernama CD (compact disc) yang mungkin sebentar lagi juga akan menghilang digantikan oleh alat lain yang lebih canggih. Seperti hukum alam pada umumnya akan muncul hal-hal baru menggantikan yang lama.

Perjalanan ke masa lalu dimulai. Kotak-kotak kaset itu mulai kubongkar satu persatu, menyingkirkan debu yang melekat dan menjemurnyanya dibawah terik mentari. Walaupun untuk  tindakan terakhir ini aku tak tau manfaatnya.

Malangnya sewaktu kucoba di pemutar kaset yang  kebih dikenal dengan istilah “tep” atau tape recorder, pita kaset  menggulung diantara roda dan sama sekali  tak mengeluarkan suara. Tak menyerah, tape recorder tahun 80-an bermerek Sharp itu kubersihkan perlahan,  sementara itu  aku harus bolak balik ke toko elektronik dekat rumah untuk membeli beberapa parts yang sudah mulai tak berfungsi sempurna.

Project selesai, alunan pita kaset mendayu, tak ketinggalan suara mendesis yang menjadi ciri khas kaset  mengingatkanku akan sebuah era. Ditengah hujan  yang mengguyur deras kunikmati untaian nada , sambil berhayal tak lama lagi aku akan kaya raya  karena  harta karunku ini.

Sungguh mimpi disiang bolong  🙂

 

 

 

LAUT DAN LANGIT

Tag

, , , , , , , ,

Dreamland

Dreamland Bali (Fujifilm XT1, lensa fujinon 14 mm f 2.8)

Saat laut murka, langit tak kalah unjuk wibawa. Ketika langit cerah, lautpun tersenyum sumringah. Pada satu titik mereka dipertemukan oleh mata. Tapi laut dan langit tak akan pernah benar-benar bersama

AKU DAN BAYANGAN

Tag

, , , , ,

Bali

Dreamland Bali (Fujifilm XT1, lensa Fujinon 14 mm f 2.8)

Aku berdiri membelakangi cahaya dan  berbincang dengan bayangan. Dengan lembut dia mengucapkan janji untuk selalu setia berjalan disisiku. Meski lembut dia tegas dan berkata “tepat jam dua belas, aku akan pergi meninggalkanmu”

SUDUT PANDANG

Tag

, , , ,

fujifilm xpro 2

Sudut pandang (Fujifilm Xpro2, lensa Fujinon 35 mm f2)

Semua peristiwa akan memberikan sebuah makna. Sudut pandanglah yang membuat maknanya berbeda untuk  setiap orang.

Walaupun banyak sekali dimensi dari peristiwa itu sendiri, yang paling mudah membaginya menjadi sisi positif dan negatif.

Seburuk apapun peristiwa yang menimpa kita pasti memiliki sisi positif  dan cobalah selalu melihat dari sudut itu. Karena mungkin kita akan menemukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

VIETNAM DI GALANG

Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

Perang menciptakan peradaban baru  sekaligus menyisakan tragedy kemanuasiaan yang tak termaafkan (arman)

Vietnam 1955-1975 menjadi medan laga antara Amerika, China serta beberapa negara lain dan berimbas samapai  ke Indonesia. Sisa peninggalannya masih dapat kita lihat di Pulau Galang Provinsi Kepulauan Riau.

kamp pengungsi vietnam

Pagar kawat berduri, umumnya digunakan untuk memisahkan satu komplek bangunan dengan yang lainnya

Tak sulit untuk mencapai bekas kamp pengungsi Vietnam di pulau yang sempat menjadi tempat penampungan 250.000 orang pengungsi korban perang. Dari kawasan Nagoya (pusat bisnis kota Batam) aku dengan motor matic pinjaman berangkat pagi hari menuju kesana,  melewati kawasan industri Muka Kuning.

Pagi itu jalanan cukup ramai dengan kenderaan terutama roda dua. Mereka terlihat terburu-buru menuju ketempat kerja. Sampai di persimpangan menuju jembatan Barelang jalanan lebih sepi, akupun  mulai memacu motorku.

Barelang sendiri adalah singkatan dari Batam-Rempang-Galang. Nama yang mengacu kepada pulau yang dihubungkan oleh jembatan yang berjumlah 6 buah. Merupakan jembatan pertama di Indonesia yang menghubungkan pulau, jauh sebelum jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dengan pulau Madura.

Melewati jembatan demi jembatan motor bertenaga 100 cc itu semakin kencang kupacu. Gas pol istilahnya, jalanan sepi dan lebar dengan aspal yang mulus membuatku jadi lupa diri,  sampai tiba-tiba motorku oleng nyaris terjatuh akibat tiupan angin kencang dari samping. Sejenak jantungku berdegup kencang, aku coba menguasai diri dan kembali memacu motorku, namun kali ini lebih pelan dan lebih berhati-hati.

pulau Galang

Perahu yang digunakan para pengungsi untuk sampai ke Pulau Galang. Perahu kayu ini diisi 40 sampai 100 orang pengungsi

Hampir 2 jam aku menghabiskan waktu di jalan sampai juga  ke gerbang kamp pengungsian manusia perahu. Sebutan yang disematkan kepada para pengungsi karena kedatangannya menggunakan perahu kayu yang diisi antara 40 sampai dengan 100 orang pengungsi.

Setelah membayar registrasi di gerbang masuk sebesar Rp. 10.000,- (Rp. 5.000 untuk orang dan Rp. 5.000 untuk sepeda motor) aku mulai  mengelilingi kamp pengungsi.

Sisa peninggalan  pengungsi dapat dilihat  ditempat ini, walaupun sebagian hanya tinggal puing yang  termakan waktu. Kamp yang mulai beroperasi pada tahun 1979 ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap yang dibangun oleh pemerintah Indonesia dan badan PBB untuk urusan pengungsi atau UNHCR.

Ada banyak kisah tragis selama priode itu sampai akhirnya kamp ini ditutup secara resmi pada tahun 1997.  Tentang pengungsi yang menolak dikembalikan ke Vietnam pada akhir priode perang dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri dipohon,  menjadi salah satu kisah yang mengerikan sekaligus memilukan.

Aku juga mendapat cerita dari seorang bapak tua yang tak mau menyebutkan namanya di sebuah vihara, bahwa dahulu  tak hanya pengungsi dari negara Vietnam yang ada disini. Sebagian kecil juga pengungsi dari negara Cambodia. Kedua bangsa ini harus dipisahkan dan  dijaga oleh Brimob Indonesia, karena seringkali terjadi perkelahian apabila mereka bertemu satu dengan yang lainnya.

Cerita yang tak bisa ku validasi kebenarannya, karena aku tak memperoleh data lainnya. Tapi mungkin saja hal itu benar adanya, mengingat Cambodia juga menjadi salah satu medan perang pada priode itu.

Tak jauh dari gerbang masuk camp pengungsi terdapat sebuah patung yang dikenal sebagai humanity statue (patung kemanusiaan). Patung yang menjadi pengingat kisah tragis lainnya di kamp ini. Tentang seorang perempuan bernama Tinhn Han Loai yang menjadi korban pemerkosaan sesama pengungsi. Dan pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri karena tak sanggup menahan malu. Dia gantung diri persis di lokasi patung yang didirikan sebagai pengingat kejadian tersebut.

humanity statue galang

Humanity statue, mengenang kisah Tinhn Han Loai

Dibalik rumpun bambu yang lebat aku melihat sisa bangunan, kiranya  bekas gereja Protestan yang sama sekali tak terurus. Dinding bangunan nyaris tak ada lagi dan hanya tersisa kerangka bangunan dan atap seng yang nyaris lepas. Tiupan angin yang cukup kencang menimbulkan suara-suara yang cukup mencekam. Bagian utuh hanya sebuah salib yang tersandar di tiang bangunan dan hanya itu yang menunjukkan bahwa dulu banguna ini adalah rumah ibadah bagi agama Kristen.

pulau galang

begas tempat peribadatan agama Kristen Protestan

pulau galang

Kursi jemaat gereja

Aku melintasi komplek bangunan yang diberi nomer didinding bagian luarnya. semak dan sulur pohon nyaris menutup seluruh bangunan.  Aku tak tau persis fungsi bangunan ini untuk apa. Mungkin rumah karantina atau kantor staf UNHCR? Suasananya begitu sepi sampai aku  bisa mendengar suara nafasku sendiri.

pulau galang

Bagunan terlantar

pulau galang

Papan petunjuk

Tapi galang tak hanya reruntuhan, beberapa bangunan masih berdiri kokoh bahkan masih berfungsi. Rumah sakit yang masih terlihat baik walau dengan kaca jendela yang nyaris pecah semuanya. Sedangkan barak pengungsi terlihat masih utuh, sepertinya baru habis di restorasi untuk kepentingan wisata.

pulau galang

Bekas bangunan rumah sakit

pulau galang

ruangan di rumah sakit

pulau galang

Kaca jendela rumah sakit yang pecah

pulau galang

Pohon liar tumbuh di ruangan rumah sakit

pulau galang

Dilarang membuang sampah sembarangan

Bangunan tempat ibadah umumnya masih terawat seperti mushola kecil, Vihara dan gereja katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem masih megah berdiri. Dibawah papan nama gereja ini tertulis  “Galang, Memory of a tragedy past” (tragedi kemanusiaan akibat perang)

galang

Mushala tak bernama

 

pulau galang

Gereja Katolik gereja katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem pulau Galang

Aku memasuki area gereja dan berbincang dengan mama Pridi, seorang perempuan yang berasal dari Adonara, Flores NTT. Tugasnya menjaga dan merawat gereja. Mama baru bertugas tiga bulan menggantikan petugas lama yang meninggal dunia karena sakit. Dari mama aku mendapat  informasi bahwa pada saat-saat tertentu tempat ini sering dikunjungi oleh orang-orang dari Amerika sana. Tak jarang mereka meneteskan air mata sewaktu melihat tempat ini. Dapat dimaklumi mengingat keterlibatan bangsa Amerika  dalam perang itu sendiri.

NTT

Mama Pridi, pengurus Gereja Katolik dari Adonara NTT

Selain Amerika, pengunjung dari Vietnam pun sering datang. Tujuannya tentu saja untuk bernostalgia atau sekedar berziarah ke komplek makam Ng Hia Trang Grave. Tempat pemakamanan tempat 503 orang pengungsi dimakamkan yang meninggal akibat penderitaan selama perjalanan maupun karena penyakit. Memasuki komplek ini terdapat tulisan dalam 4 bahasa ;

“Dipersembahkan kepada para pengungsi yang meninggal dunia pada waktu perjalanan menuju kebebasan”

galang

Komplek makam Nghia-Trang Galang

pulau galang

Motor matic yang setia menemaniku selama perjalanan

Selebihnya sunyi yang mendominasi. Hanya sekumpulan monyet liar berkumpul di jalanan. Monyet liar yang nampak ramah dan tak mengganggu pengunjung. Ketika sebuah mobil  berhenti di sekitarnya dan melemparkan sisa sisa makanan,, hewan itu berlari gembira dan berkumpul disekitar mobil.

pulau galang

Kantor polisi Indonesia. Lantai 1 merupakan sel tahanan bagi para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal atau berkelahi

pulau galang

Pintu sel tahanan

Pintu mobil terbuka dan seorang remaja keluar sambil membidikkan senapan angin ke arah monyet yang tak sadar bahaya. Reflek aku melompat dari tempat dudukku, berlari mendekat dan berteriak gila.

“Monyet itu salah apa????”

“Monyet itu mengganggu hidup lu ???”

tak ku pedulikan moncong senapan itu bisa saja diarahkan kepadaku. Remaja itu tertunduk diam dan pelan-pelan kembali masuk kedalam mobil. Mungkin nyalinya ciut  juga.

Aku tak peduli

(Photo diambil menggunakan kamera Fujifilm Xpro 2, lensa Fujifilm 14 mm f 2.8, 35 mm f 2 dan Carlzeis 50 mm f 2.8)